UIN KHAS Jember Gelar Workshop Trend Sejarah Lingkungan dan Posisi Agama dalam Historiografi

Home >Berita >UIN KHAS Jember Gelar Workshop Trend Sejarah Lingkungan dan Posisi Agama dalam Historiografi
UIN KHAS Jember Gelar Workshop Trend Sejarah Lingkungan dan Posisi Agama dalam Historiografi
Preview

JEMBER — Mengkaji krisis ekologi dari kacamata masa lalu dan keyakinan spiritual, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menggelar workshop bertajuk "Trend Sejarah Lingkungan dan Posisi Agama dalam Historiografi Lingkungan". Acara ini diselenggarakan di Gedung Internasional Business Education Center (BEC) pada Selasa dan Rabu (23-24/06/2026).

Kegiatan akademik ini menjadi ruang diskusi lintas disiplin untuk membedah bagaimana narasi keagamaan dan nilai-nilai ekologis membentuk sejarah alam. Lebih dari sekadar mencatat kerusakan lingkungan di masa lalu, forum ini mengajak pesertanya untuk merefleksikan hubungan timbal balik manusia dan alam demi menemukan solusi moral atas krisis ekologi saat ini.

Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, M.Si., yang menginisiasi acara ini, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya workshop. Ia menegaskan bahwa institusi pendidikan harus hadir merespons isu-isu global yang sedang hangat.

"Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset kampus agar mampu melahirkan lulusan unggul, serta terus memberikan kontribusi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman," jelas Prof. Khusna Amal.

Diketuai oleh Al-Furqon, M.Th.I., Ph.D., acara ini disambut antusias oleh civitas akademika dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), hingga Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sederet dosen, fasilitator, dan alumni turut hadir memperkaya forum, di antaranya Muhammad Faiz, M.A., Anggi Trivina Palupi, M.Pd., Achmad Faesol, M.Si., Ach. Barocky Zaimina, M.S.I., Dahimatul Afidah, M.Hum., M. Al Qautsar Pratama,M.Hum serta Mahillah, M.Fil.I.

Dalam laporannya,   Al-Furqon, M.Th.I., Ph.D., menyampaikan jumlah peserta dalam kegiatan ini 70 Mahasiswa yang terbagi dalam 7 kelompok riset, selain itu juga target Output dalam bentuk laporan riset dan Outcome dalam bentuk Book Chapter. 

Workshop ini menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., sebagai pembicara utama, dengan panduan moderator Dahimatul Afidah, M.Hum. (Dosen SPI UIN KHAS Jember).

Dalam paparannya, Prof. Nawiyanto mengingatkan kembali bahwa generasi terdahulu tidak memandang alam sebagai komoditas eksploitasi, melainkan sebagai entitas sakral yang harus dijaga keseimbangannya melalui kearifan lokal dan nilai religius.

Muhammad Faiz, M.A., selaku Kaprodi Sejarah dan Peradaban Islam sangat mendukung dan mendorong kegiatan ini, mayoritas  peserta workshop dari mahasiswa SPI diberikan ruang yang lebar untuk mengembangkan hasil penelitian yang kritis. 

Diskusi semakin berbobot dengan kehadiran dari kalangan alumni sekaligus peneliti. Ahmad Rama Dony, M.Phil., seorang peneliti ekoteologi, memberikan perspektif tentang bagaimana agama berfungsi sebagai media efektif dalam pelestarian lingkungan. Sementara itu, Jergian Jodi, M.Hum., yang mewakili Komunitas Kulit Pohon, menyoroti isu lingkungan dari lensa sejarah. 

Senada dengan pandangan para pakar, Dosen SPI UIN KHAS Jember, M. Al Qautsar Pratama, M.Hum., memaparkan bahwa gerakan penyelamatan lingkungan di Indonesia terbukti jauh lebih berhasil jika berpijak pada tradisi dan ajaran agama. Ia mencontohkan beberapa filosofi nusantara yang bernilai ekologis tinggi, Bima memiliki filosofi ngaha aina ngoho, yang bermakna "memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusaknya." Konsep ini mengajarkan gaya hidup moderat dan tidak serakah. Bali, Berpegang pada konsep Tri Hita Karana yang secara harmonis menyinergikan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Lombok, Memiliki aturan adat awig-awig yang secara ketat dan efektif menjaga kelestarian ekologi setempat.

Melalui acara ini, UIN KHAS Jember menyampaikan pesan kuat: menjaga lingkungan hidup bukan lagi sekadar tugas teknis, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan kesadaran kolektif. Manusia diajak untuk kembali merawat bumi sebagai ruang hidup yang suci demi kelangsungan generasi di masa depan.

(Penulis: Moh. Nurul Washilah)



Tag :

Diposting Pada : 24 Juni 2026, 11:28 | Oleh : M. AL QAUTSAR PRATAMA, M.Hum
Dilihat : 193