Menelusuri Jejak Islam dan Perjuangan Bangsa, Mahasiswa SPI UIN KHAS Kunjungi PWNU Jatim dan Museum 10 November

Home >Berita >Menelusuri Jejak Islam dan Perjuangan Bangsa, Mahasiswa SPI UIN KHAS Kunjungi PWNU Jatim dan Museum 10 November
Menelusuri Jejak Islam dan Perjuangan Bangsa, Mahasiswa SPI UIN KHAS Kunjungi PWNU Jatim dan Museum 10 November
Preview

Surabaya, 6 Juni 2026 – Sebanyak 41 mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) angkatan 2024 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember melaksanakan kegiatan kuliah kunjungan ke Surabaya pada Jumat (6/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Sejarah Islam Indonesia Pasca Kemerdekaan yang ditempuh pada semester empat.

Kuliah kunjungan tersebut didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, M. Al-Qautsar Pratama, M.Hum. Adapun lokasi yang dikunjungi meliputi Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Museum 10 November, dan kawasan Kota Tua Surabaya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan materi yang dipelajari di ruang kelas dengan realitas sejarah yang masih dapat dijumpai secara langsung.

Perjalanan dimulai pada dini hari dengan titik keberangkatan dari Kampus UIN KHAS Jember. Rombongan berangkat menuju Surabaya pada pukul 00.50 WIB. Setibanya di Kota Surabaya, mahasiswa terlebih dahulu singgah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya untuk melaksanakan salat Subuh, beristirahat, dan sarapan sebelum melanjutkan agenda utama.

Kunjungan pertama dilaksanakan di Kantor PWNU Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa mengikuti sesi pemaparan materi dan diskusi mengenai sejarah serta perkembangan Nahdlatul Ulama yang disampaikan oleh Riadi Ngasiran, selaku Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Jawa Timur.

Dalam pemaparannya, Riadi Ngasiran menjelaskan berbagai aspek penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama, mulai dari latar belakang pendiriannya, peristiwa Komite Hijaz di Makkah, diplomasi ekonomi yang turut mengundang tokoh NU di Jepang, hingga pelaksanaan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) yang digagas oleh KH Achmad Sjaichu dan KH Idham Chalid pada tahun 1965 di Bandung. Selain itu, ia juga menguraikan peran Nahdlatul Ulama dalam perkembangan kehidupan sosial, keagamaan, dan kebangsaan di Indonesia pada masa kontemporer.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab yang memungkinkan mahasiswa memperdalam pemahaman mengenai dinamika perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Salah satu peserta kuliah kunjungan, Thisya, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut.

“Pemaparan informasi dari Bapak Riadi sangat bermanfaat untuk menambah wawasan saya mengenai perjalanan Nahdlatul Ulama dalam perjuangannya untuk Indonesia. Selain itu, sesi diskusi yang berlangsung juga sangat menarik dan memberikan banyak perspektif baru,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan agenda di Kantor PWNU Jawa Timur, rombongan melanjutkan kunjungan ke Museum 10 November. Di lokasi ini, mahasiswa memperoleh edukasi mengenai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada peristiwa Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Berbagai koleksi museum, mulai dari dokumentasi sejarah hingga benda-benda peninggalan perjuangan, menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai sejarah nasional.

Kegiatan kuliah kunjungan kemudian ditutup dengan penelusuran kawasan Kota Tua Surabaya, salah satu kawasan bersejarah yang menyimpan jejak perkembangan kota sejak masa kolonial. Di kawasan tersebut, mahasiswa mengamati sejumlah bangunan bersejarah yang masih berdiri dan menjadi saksi perkembangan Surabaya sebagai pusat perdagangan dan aktivitas pemerintahan.

Beberapa bangunan yang menjadi objek pengamatan antara lain De Javasche Bank Surabaya, Jembatan Merah, Gedung Internatio, Gedung Cerutu, serta Pabrik Sirup Siropen. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai perkembangan arsitektur kolonial sekaligus dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang pernah berlangsung di Surabaya pada masa lampau.

Melalui kegiatan kuliah kunjungan ini, mahasiswa SPI angkatan 2024 diharapkan mampu mengembangkan pemahaman sejarah yang lebih komprehensif, kritis, dan kontekstual. Selain memperkuat pemahaman akademik, pengalaman belajar di lapangan juga menjadi sarana untuk menumbuhkan apresiasi terhadap warisan sejarah dan kebudayaan Indonesia.

 

 

Penulis: Marsya Dwi Amailia


Tag :

Diposting Pada : 7 Juni 2026, 16:59 | Oleh : M. AL QAUTSAR PRATAMA, M.Hum
Dilihat : 149