Apresiasi Yudisium FUAH UIN KHAS Jember: Sosok Mahasiswa Berprestasi dan Falsafah Dibalik Deretan Pialanya

JEMBER — Selain pengumuman lulusan terbaik, momen Yudisium Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember juga menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa berprestasi. Capaian ini menjadi bukti komitmen akademik serta dedikasi luar biasa dalam mengembangkan potensi diri di berbagai ajang kompetisi.
Bagi mahasiswa yang aktif menorehkan prestasi ini, setiap perlombaan memiliki daya tarik dan tantangan tersendiri yang turut membentuk kapasitas dirinya.
"Semua lomba tentu menantang dan berkesan bagi saya. Ada tantangan tersendiri dari tiap cabang lomba. Kepenulisan dengan cara berpikirnya, pidato dengan seni retorika dan penguasaan panggungnya, begitu pula sastra dengan kedalaman rasa dan keindahan diksinya. Semua pengalaman ini membentuk mentalitas sekaligus mempertajam insting saya dalam meracik strategi terbaik di setiap kompetisi," ujar Silsilu Durrotil Bahiyah
Semangat juang tersebut didorong oleh falsafah hidup yang dipegangnya teguh. Mengutip pesan gurunya, ia menanamkan prinsip "Maju catu, mandek ambruk, mundur ancur" sebagai pengingat untuk tidak pernah berhenti berproses.
Di balik rentetan piala dan pencapaian, ia menekankan pentingnya lima nilai spiritual dalam menyikapi hasil dari setiap perjuangan: syukur, ikhlas, sabar, ridho, dan tawakal. Nilai-nilai ini menjadi benteng utama agar tidak terjebak dalam sifat kesombongan saat berhasil, maupun keputusasaan saat menemui kegagalan.
Sebagai penutup, Silsilu Durrotil Bahiyah menyisipkan pesan mendalam bagi seluruh rekan mahasiswa yang sedang berjuang meniti proses. Ia menekankan pentingnya menjaga kerendahan hati dan keteguhan mental.
"Boten pareng duwur (tidak boleh tinggi hati saat berhasil)" dan "boten pareng lugur (tidak boleh jatuh saat gagal)"
Tag :