Mahasiswi SPI UIN KHAS Jember Lolos Seleksi Nasional Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN melalui Film Dokumenter Sejarah

JEMBER – Mahasiswi Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Thisya Ma'isatus Sa'adah, berhasil mengantarkan karya film dokumenternya berjudul Hembusan Bayu Sabda Leluhur dari Sisi Selatan Argopuro lolos seleksi nasional Program Akuisisi Pengetahuan Lokal yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Capaian ini menjadi kontribusi mahasiswa dalam mendokumentasikan dan memperkenalkan kekayaan sejarah serta pengetahuan lokal Jember kepada masyarakat luas.
Keberhasilan tersebut berawal dari ketertarikan Thisya terhadap jejak peradaban kuno di Jember, khususnya peninggalan yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 di kawasan selatan Gunung Argopuro. Ketertarikan itu tumbuh sejak awal masa perkuliahan dan mendorongnya untuk melakukan penelusuran langsung ke lapangan.
Pada tahap awal, Thisya mengaku sempat merasa terkejut ketika dosen mendorongnya untuk melakukan penelusuran secara mandiri. Alih-alih memperoleh jawaban secara langsung, ia justru diarahkan untuk mencari informasi melalui observasi lapangan.
“Itu kan masih semester awal ya. Saya berharap bisa mendapatkan cerita secara langsung, tetapi malah disuruh berkeliling sendiri,” kenang Thisya.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal bagi Thisya untuk mengembangkan kemandirian dalam melakukan riset sejarah. Dengan memanfaatkan informasi lisan dari orang-orang tua serta petunjuk dari kakeknya, ia mulai menelusuri sejumlah desa di kawasan lereng selatan Gunung Argopuro untuk menghimpun informasi mengenai peninggalan sejarah setempat.
Tantangan berikutnya muncul ketika proses dokumentasi visual dimulai. Dengan keterbatasan fasilitas dan biaya produksi, Thisya mengawali proses perekaman menggunakan telepon genggam berbasis Android. Ia kemudian berupaya meminjam kamera profesional dari rekan-rekannya agar kualitas dokumentasi dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan produksi film.
Penelusuran tersebut mencakup sejumlah situs peninggalan megalitik, di antaranya Watu Gong dan Watu Kenong. Melalui dokumentasi visual dan pengumpulan informasi lapangan, Thisya berupaya menyajikan jejak sejarah lokal dalam format yang lebih menarik dan mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Dalam proses produksi, Thisya juga memperoleh dukungan dari sejumlah mahasiswa senior lintas angkatan. Mereka adalah Jergian Jodi, Gaza Triatama, M. Imam Baihaqi, Exlima Ramadani, Lukman Hakim, Agus Santoso, Naufal Luthfan R, dan Miftakhul Khoiri Hamdan Habibi. Keterlibatan mereka turut mendukung pelaksanaan riset, pengambilan gambar, serta penyelesaian film dokumenter tersebut.
Thisya menegaskan bahwa keberhasilan film ini merupakan hasil kerja bersama, bukan semata-mata pencapaian individu.
“Sebenarnya ada banyak tim di balik layar tersebut, senior-senior saya yang sangat berperan besar. Kebetulan saja di proyek ini saya yang bertindak sebagai sutradaranya,” ungkapnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai kendala teknis maupun keterbatasan sumber daya selama proses produksi. Kolaborasi antarmahasiswa memungkinkan proyek dokumenter ini terus berjalan hingga tahap penyelesaian.
Selain melakukan penelusuran lapangan, Thisya dan tim juga mengkaji dokumen sejarah berupa laporan kolonial Belanda yang berkaitan dengan peninggalan purbakala di Jember. Dokumen-dokumen tersebut menjadi salah satu sumber yang digunakan untuk memperkuat penulisan naskah film.
Dalam memahami arsip berbahasa asing, Thisya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu proses pemindaian dan penerjemahan dokumen. Pemanfaatan teknologi tersebut mendukung proses awal pengolahan sumber, yang selanjutnya perlu dipadukan dengan pembacaan kritis dan verifikasi agar informasi yang digunakan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pilihan untuk mengemas hasil penelusuran dalam bentuk film dokumenter didasarkan pada pertimbangan bahwa media audiovisual berpotensi menjangkau khalayak yang lebih luas. Format ini juga dinilai relevan untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda melalui penyajian informasi yang lebih komunikatif.
Untuk memperkuat aspek ilmiah penelitian, tim turut membangun komunikasi dengan akademisi dari perguruan tinggi lain. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melibatkan arkeolog senior dari Universitas Negeri Malang (UM), Ismail Lutfi, untuk membantu memverifikasi temuan di lapangan.
Lolosnya film Hembusan Bayu Sabda Leluhur dari Sisi Selatan Argopuro dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN menjadi capaian penting bagi Thisya dan tim. Keberhasilan tersebut sekaligus membuka peluang bagi dokumentasi sejarah lokal Jember untuk dikenal dan dimanfaatkan sebagai bagian dari sumber pengetahuan digital di tingkat nasional.
Film ini mengangkat potensi sejarah Jember kuno yang masih memerlukan penelusuran dan kajian lebih lanjut. Melalui dokumentasi peninggalan arkeologis dan pengumpulan sumber sejarah, karya tersebut berupaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai perkembangan peradaban di wilayah Jember, termasuk konteks sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya identitas budaya masyarakat setempat.
Capaian Thisya dan tim menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya akademik yang bermakna. Rasa ingin tahu, ketekunan dalam melakukan penelusuran, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas angkatan dan perguruan tinggi menjadi unsur penting dalam proses tersebut.
Prestasi ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa, khususnya di lingkungan Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam UIN KHAS Jember, untuk terus mengembangkan riset dan dokumentasi sejarah lokal melalui berbagai media. Dengan demikian, kekayaan sejarah dan pengetahuan masyarakat dapat terus digali, didokumentasikan, serta diperkenalkan kepada generasi mendatang.
Tag :