Tiga Dosen FUAH UIN KHAS Jember Mengurai Jejak Pesantren Dari Benteng Budaya hingga Obor Spiritualitas Bangsa Dalam Bookchapter Terbaru

Home >Berita >Tiga Dosen FUAH UIN KHAS Jember Mengurai Jejak Pesantren Dari Benteng Budaya hingga Obor Spiritualitas Bangsa Dalam Bookchapter Terbaru
Tiga Dosen FUAH UIN KHAS Jember Mengurai Jejak Pesantren Dari Benteng Budaya hingga Obor Spiritualitas Bangsa Dalam Bookchapter Terbaru
Preview


Jember — Sebuah karya akademik bertajuk *“Pesantren: Jejak Pendidikan dan Peradaban Islam di Indonesia”* resmi diterbitkan oleh UIN KHAS Press dan kini tengah memasuki tahap proses cetak. Buku ini menghadirkan perspektif komprehensif mengenai pesantren sebagai institusi pendidikan sekaligus entitas peradaban yang memiliki pengaruh luas dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam buku tersebut terdapat tulisan-tulisan apik kontribusi tiga dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, yakni Ahmad Hanafi, Ah. Syukron Latif, dan Muhammad Faiz. Ketiganya menyumbangkan tulisan yang memperkaya analisis terhadap peran pesantren dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Sebagai editor, Ahmad Badrus Sholihin menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tetapi juga sebagai institusi sosial-keagamaan yang berperan penting dalam pembentukan tradisi intelektual, moralitas, serta karakter sosial umat. Menurutnya, pesantren telah menjadi aktor signifikan dalam dinamika kebangsaan sejak masa awal Islamisasi hingga era kontemporer.

Lebih jauh, sekretaris jurusan Studi Islam FUAH ini menegaskan buku ini disusun dengan pendekatan multidisipliner yang menelusuri pesantren sebagai sistem peradaban yang terus hidup dan berkembang. Kajian dalam buku ini menyoroti akar historis pesantren yang berakar pada budaya lokal, namun memiliki keterkaitan erat dengan jaringan keilmuan Islam global.

Dalam kontribusinya, Ahmad Hanafi melalui tulisan berjudul “Pesantren Sebagai Benteng Budaya dalam Lintas Sejarah Indonesia”* menekankan bahwa pesantren memainkan peran strategis sebagai benteng budaya dan pusat transmisi keilmuan Islam. Ia menunjukkan bagaimana pesantren menjadi ruang dialektika antara Islam dan budaya lokal yang melahirkan tradisi khas dalam seni, sastra, dan praktik sosial masyarakat Muslim Indonesia.

Ahmad Hanafi yang pakar dalam kajian Filologi ini juga menguraikan bahwa dalam lintasan sejarah, pesantren berkontribusi dalam transformasi besar dari era Hindu-Buddha menuju kesultanan Islam. Selain itu, pesantren berkembang menjadi pusat studi keilmuan dan skriptorium yang menjaga serta menyebarkan manuskrip penting, sekaligus beradaptasi dengan pengaruh global seperti tradisi pendidikan Turki Usmani.

Sementara itu, Ah. Syukron Latif dalam tulisannya berjudul *“Peran Kiai di Internal dan Eksternal Pesantren”* menyoroti posisi sentral kiai dalam menjaga keberlanjutan pesantren. Ia menjelaskan bahwa di dalam pesantren, kiai berperan sebagai figur multidimensional—pengasih, pengasah, dan pengasuh—yang membentuk intelektualitas dan karakter santri.

Di luar lingkungan pesantren, lanjut Syukron yang juga sebagai pengasuh pesantren Miftahul Ulum Jember ini, menegaskan bahwa kiai berfungsi sebagai pemimpin umat dengan otoritas sosial-keagamaan yang luas. Peran ini mencakup dakwah, mediasi sosial, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, sehingga kiai menjadi agen transformasi sosial yang menjembatani nilai-nilai Islam dengan realitas masyarakat.

Adapun Muhammad Faiz melalui tulisannya yang berjudul *“Pesantren Obor Spiritualitas Bangsa”* menyoroti dimensi spiritual pesantren sebagai kekuatan utama dalam membentuk karakter bangsa. Ia mengamini bahwa pesantren merupakan subkultur khas Indonesia yang mampu mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan kearifan lokal, sekaligus tetap adaptif terhadap tantangan modernitas.

Muhammad Faiz juga menegaskan bahwa di tengah krisis makna akibat materialisme dan sekularisasi, pesantren hadir sebagai sumber kekuatan moral dan spiritual. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menjadi refleksi akademik, tetapi juga tawaran strategis untuk memperkuat peran pesantren sebagai pilar utama dalam membangun peradaban Islam dan masa depan Indonesia. (MF/Bdr)


Tag :

Diposting Pada : 19 April 2026, 14:52 | Oleh : M. AL QAUTSAR PRATAMA, M.Hum
Dilihat : 287