Dosen FUAH UIN KHAS Jember Terbitkan Buku “Masa Depan Pesantren”, Tegaskan Sintesis Tuntunan Tradisi dan Tuntutan Inovasi*

Home >Berita >Dosen FUAH UIN KHAS Jember Terbitkan Buku “Masa Depan Pesantren”, Tegaskan Sintesis Tuntunan Tradisi dan Tuntutan Inovasi*
Dosen FUAH UIN KHAS Jember Terbitkan Buku “Masa Depan Pesantren”, Tegaskan Sintesis Tuntunan Tradisi dan Tuntutan Inovasi*
Preview


Jember.  Bookchapter berjudul *“Masa Depan Pesantren: Tuntunan Tradisi dan Tuntutan Inovasi”* resmi diterbitkan oleh UIN KHAS Press yang saat ini memasuki tahap naik cetak. Karya ini menjadi salah satu kontribusi penting dalam memetakan arah transformasi pesantren di tengah tekanan globalisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks.

Dalam buku tersebut terdapat tulisan tiga dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, yakni Ahmad Amir Firmansyah, Ahmad Badrus Sholihin, dan Aslam Saad. Ahmad Badrus Sholihin juga bertindak sebagai editor yang mengorkestrasi gagasan dari total 11 kontributor civitas akademik UIN KHAS Jember dari lintas bidang keilmuan.

Sebagai penerbit, UIN KHAS Press menempatkan buku ini sebagai bagian dari penguatan tradisi akademik kampus dalam merespons isu-isu strategis keislaman kontemporer. Kehadiran buku ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga menawarkan kerangka konseptual bagi pengembangan pesantren ke depan.

Ahmad Badrus Sholihin yang saat ini menjabat sebagai sekretaris jurusan Studi Islam FUAH, menegaskan bahwa masa depan pesantren sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola ketegangan antara pelestarian tradisi dan kebutuhan inovasi. Tanpa kemampuan ini, pesantren berisiko kehilangan relevansi atau justru tercerabut dari akar identitasnya sendiri.

Menurutnya, pesantren tidak lagi dapat dipahami sebagai institusi pendidikan agama yang statis. Dalam konteks saat ini, pesantren harus diposisikan sebagai aktor sosial yang aktif, adaptif, dan strategis dalam merespons globalisasi, digitalisasi, serta transformasi struktur masyarakat.

Buku ini mengkaji berbagai isu kunci, mulai dari dampak teknologi digital terhadap sistem pembelajaran dan otoritas keilmuan, perubahan relasi kiai dan santri, hingga perluasan peran pesantren di ruang publik. Selain itu, isu keadilan gender, krisis lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan moderasi beragama juga menjadi fokus pembahasan.

Dalam tulisannya berjudul *“Jejak Kolaborasi Pesantren: Dari Pendidikan Global Hingga Ekonomi Mandiri”*, Ahmad Amir Firmansyah menyoroti pentingnya kolaborasi strategis sebagai fondasi transformasi pesantren. Ia menunjukkan bahwa tanpa kolaborasi, pesantren akan sulit menembus batas lokalitasnya.

Melalui studi kasus Pondok Pesantren Amanatul Ummah, ia menunjukkan bagaimana inovasi kurikulum dan kemitraan internasional mampu mendorong santri bersaing di perguruan tinggi global. Sementara itu, Pondok Pesantren Sunan Drajat menjadi contoh konkret bagaimana pesantren dapat membangun kemandirian ekonomi melalui pengelolaan unit usaha berbasis syariah.

Di sisi lain, Ahmad Badrus Sholihin yang turut menulis judul *"Pesantren, Seni Mamaca dan Moderasi Beragama"* menyoroti kegagalan adaptasi dakwah kultural di tengah dominasi pendekatan digital dan skripturalis. Ia menilai bahwa tanpa revitalisasi serius, tradisi seperti mamaca akan terus terpinggirkan dan kehilangan relevansinya dalam membangun moderasi beragama.

Sebagai penutup tulisan, Aslam Saad menulis judul *"Pesantren dan Multikulturalisme"* yang menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menginternalisasi nilai-nilai multikulturalisme di Indonesia. Dengan pendekatan pendidikan yang inklusif dan integratif, pesantren tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang mampu merawat harmoni dan stabilitas dalam masyarakat yang majemuk. (MF/Bdr)


Tag :

Diposting Pada : 19 April 2026, 14:48 | Oleh : M. AL QAUTSAR PRATAMA, M.Hum
Dilihat : 170