Praktik Ekskavasi Hari Kedua Bimtek Arkeologi Bangun Antusiasme Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember

Home >Berita >Praktik Ekskavasi Hari Kedua Bimtek Arkeologi Bangun Antusiasme Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember
Praktik Ekskavasi Hari Kedua Bimtek Arkeologi Bangun Antusiasme Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember
Preview

Memasuki hari kedua pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Arkeologi: Pengelolaan dan Kajian Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) pada Jumat, 22 Mei 2026, suasana kegiatan terasa berbeda dari hari sebelumnya. Jika pada sesi awal peserta lebih banyak mengikuti pemaparan materi di dalam ruangan, kali ini seluruh peserta turun langsung ke lapangan untuk mengikuti praktik ekskavasi arkeologi di kawasan punden yang berada di area perkebunan kopi milik warga di Lereng Selatan Gunung Hyang.

Udara pagi yang sejuk dan hamparan perkebunan kopi menjadi latar kegiatan praktik lapangan tersebut. Sejak pagi, peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mempersiapkan peralatan ekskavasi sambil mendengarkan arahan dari tim pemateri. Suasana penuh semangat langsung terasa ketika para peserta mulai memasuki area ekskavasi yang telah ditentukan.

Praktik lapangan ini dipandu langsung oleh Drs. Ismail Lutfi, M.A., yang memberikan pengenalan mengenai teknik dasar ekskavasi penyelamatan benda cagar budaya arkeologi. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa ekskavasi bukan sekadar proses menggali tanah, tetapi bagian dari penelitian ilmiah yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman terhadap konteks sejarah suatu situs.

Menurutnya, setiap lapisan tanah menyimpan informasi penting yang dapat membantu peneliti memahami kehidupan masyarakat pada masa lampau. Karena itu, proses penggalian harus dilakukan secara hati-hati agar data arkeologis yang ada tidak rusak atau hilang.

“Dalam arkeologi, yang dicari bukan hanya bendanya, tetapi juga konteksnya. Posisi temuan, kedalaman tanah, hingga susunan lapisan menjadi bagian penting dalam membaca sejarah,” jelas Drs. Ismail Lutfi di hadapan peserta.

Setelah mendapatkan pengarahan awal, peserta mulai dibagi ke beberapa kelompok kecil untuk melakukan praktik ekskavasi secara langsung. Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember tampak menjadi kelompok yang paling aktif selama kegiatan berlangsung. Dengan mengenakan perlengkapan sederhana seperti topi lapangan dan sarung tangan, mereka bergantian menggali kotak ekskavasi menggunakan metode stratigrafi di bawah pengawasan pemateri.

Metode stratigrafi sendiri merupakan teknik penggalian berdasarkan lapisan tanah secara berurutan untuk mengetahui kronologi dan konteks temuan arkeologi. Bagi sebagian peserta, metode tersebut menjadi pengalaman baru yang sebelumnya hanya mereka pelajari melalui teori di ruang kelas.

Suasana praktik terlihat hidup dan penuh kerja sama. Sebagian mahasiswa bertugas menggali tanah secara perlahan, sementara peserta lainnya membantu membersihkan area temuan dan mendokumentasikan setiap proses yang berlangsung. Tidak sedikit peserta yang tampak serius mencatat kedalaman tanah dan posisi benda yang ditemukan agar data lapangan tetap akurat.

Di tengah proses ekskavasi, peserta mulai menemukan beberapa indikasi awal berupa fragmen tembikar dan susunan batu yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Meski temuan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut, antusiasme peserta langsung meningkat ketika melihat secara langsung bagaimana benda-benda kecil di dalam tanah dapat menjadi petunjuk penting dalam kajian sejarah.

Bagi mahasiswa SPI UIN KHAS Jember, pengalaman praktik lapangan ini memberikan pemahaman baru mengenai dunia arkeologi yang selama ini hanya dipelajari melalui literatur dan perkuliahan. Mereka tidak hanya belajar mengenai teknik penggalian, tetapi juga memahami bagaimana proses penelitian dilakukan secara ilmiah dan sistematis.

Yafi, salah satu mahasiswa peserta Bimtek, mengaku praktik lapangan tersebut membuka perspektif baru tentang arkeologi. Menurutnya, kegiatan ekskavasi membuatnya memahami bahwa penelitian arkeologi memerlukan ketelitian tinggi dan kemampuan membaca konteks sejarah dari setiap lapisan tanah.

“Praktik ini membuat saya memahami bahwa arkeologi bukan sekadar menggali, tetapi juga membaca lapisan tanah sebagai dokumen sejarah,” ujarnya.

Kesan serupa juga disampaikan oleh Udin, peserta lainnya, yang merasa pengalaman tersebut membuatnya lebih memahami pentingnya proses dokumentasi dalam penelitian arkeologi.

“Saya sekarang mengerti kenapa setiap pecahan keramik pun harus dicatat posisi titik kordinatnya,” katanya sambil menunjukkan lembar dokumentasi lapangan yang diisinya selama praktik berlangsung.

Tidak hanya mahasiswa, peserta dari unsur masyarakat dan perangkat desa juga menunjukkan ketertarikan besar terhadap kegiatan ini. Mereka terlihat aktif berdiskusi dengan pemateri mengenai cara mengenali tinggalan budaya yang ada di lingkungan sekitar serta langkah-langkah yang perlu dilakukan apabila menemukan benda yang diduga memiliki nilai sejarah.

Agus, salah satu perangkat desa yang turut mengikuti kegiatan, menyampaikan bahwa praktik ekskavasi tersebut memberikan wawasan baru mengenai pentingnya pelestarian situs budaya di tingkat lokal. Ia menilai kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam memahami cara menjaga warisan budaya yang ada di wilayah mereka.

“Kegiatan ini meningkatkan perhatian kami dalam pengelolaan cagar budaya yang ada di desa kami,” ungkapnya.

Selain menjadi sarana pembelajaran, praktik ekskavasi ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi dapat terbangun secara alami di lapangan. Mahasiswa, masyarakat, akademisi, dan perangkat desa saling membantu selama proses penggalian berlangsung. Situasi tersebut menciptakan suasana pembelajaran yang tidak kaku, tetapi tetap serius dan penuh makna.

Melalui praktik ekskavasi hari kedua ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengalaman teknis mengenai penelitian arkeologi, tetapi juga memahami pentingnya kepedulian bersama terhadap warisan sejarah. Lereng Selatan Gunung Hyang di Badean pun kembali menunjukkan potensinya sebagai ruang belajar terbuka yang menyimpan jejak masa lalu sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda masa kini.

 

Penulis: Marsya Dwi Amailia, SPI

 


Tag :

Diposting Pada : 22 Mei 2026, 16:29 | Oleh : M. AL QAUTSAR PRATAMA, M.Hum
Dilihat : 148