Perkuat Kompetensi Historiografi, Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember Dalami Eksplorasi Arsip dan Oral History

JEMBER — Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Tahun 2026 dengan mengangkat tema besar “Eksplorasi Arsip dan Local Oral History”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Aula Lantai 2 Gedung Business and Education Center (BEC) UIN KHAS Jember.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dalam mengenali, menelusuri, mengkritisi, dan mengembangkan berbagai sumber sejarah, khususnya arsip dan sejarah lisan.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber akademisi yang memiliki pengalaman kuat dalam kajian sejarah, kebudayaan, dan sumber-sumber sejarah lokal. Narasumber pertama adalah Dzulkifli Hadi Imawan, Ph.D., akademisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang telah menghasilkan tidak kurang dari 20 buku dalam bidang kajian sejarah dan peradaban Islam.
Narasumber kedua adalah Wiwin Indiarti, M.Hum., akademisi Universitas PGRI Banyuwangi sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing yang aktif melakukan kajian dan penulisan sejarah lokal di bumi Blambangan, termasuk mengenai tradisi, manuskrip, lontar, dan babad Blambangan dengan lebih dari 25 judul buku yang telah ditulis.
Dalam sambutannya, *Dekan FUAH UIN KHAS Jember, Prof. Ahidul Asror*, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran dua akademisi dengan pengalaman dan kepakaran yang kuat memberikan ruang pembelajaran yang strategis bagi mahasiswa SPI.
Tema eksplorasi arsip dan local oral history juga dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan mahasiswa untuk memahami sejarah tidak hanya melalui buku teks dan dokumen formal, tetapi juga melalui sumber-sumber yang hidup di tengah masyarakat.
Sementara itu, Koordinator Program Studi SPI, Muhammad Faiz, menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki relevansi langsung dengan tiga profil capaian lulusan Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, yakni sejarawan, peneliti, dan pengembang sumber-sumber sejarah. Ketiga profil tersebut membutuhkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelusuran sumber secara sistematis dan kritis.
Kompetensi itu sekaligus diperkuat melalui sejumlah mata kuliah dalam kurikulum SPI, antara lain Penelusuran Arsip dan Sumber Sejarah, Metodologi Penelitian Sejarah, Pengantar Ilmu Sejarah, dan Sejarah Lisan. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi ruang untuk menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman langsung dalam membaca dan mengolah sumber sejarah.
Pada sesi pertama, Wiwin Indiarti, M.Hum. melalui perspektif “Di Mana Sejarah Bersembunyi? Membaca Banyuwangi melalui Manuskrip, Ritual, Tradisi Lisan, dan Pengetahuan Masyarakat Adat Osing.” Ia menunjukkan bahwa Banyuwangi dapat dipandang sebagai laboratorium kebudayaan, tempat sejarah dapat ditelusuri melalui manuskrip, teks dan sastra, tradisi lisan, ritual, hidangan, ingatan, foto, hingga ruang hidup masyarakat.
Setiap sumber memiliki karakter dan cara kritik yang berbeda. Manuskrip, misalnya, tidak hanya dibaca berdasarkan isi teks, tetapi juga melalui sejarah penulisan, transmisi, penggunaan, dan kehidupan sosialnya. Sementara tradisi lisan perlu dikritisi dengan mempertanyakan siapa yang mengingat, kapan kesaksian diberikan, apa yang dilupakan, dan mengapa suatu versi dapat berbeda dengan versi lainnya.
Lebih jauh, Wiwin menekankan pentingnya kritik sumber dan triangulasi dalam penelitian sejarah lokal. Mahasiswa tidak cukup menerima suatu informasi hanya karena berasal dari kesaksian masyarakat, tetapi perlu mempertemukannya dengan manuskrip, foto, arsip, artefak, dan praktik masyarakat.
Perbedaan antarsumber justru dapat menjadi data penting dalam penelitian. Ia juga menempatkan masyarakat bukan sekadar objek penelitian, melainkan sebagai pemilik pengalaman dan pengetahuan sejarah. Karena itu, penelitian perlu memperhatikan persoalan etis mengenai siapa yang berhak menentukan bagaimana pengetahuan komunitas didokumentasikan, disimpan, ditafsirkan, dan dipublikasikan.
Materi berikutnya oleh Dzulkifli Hadi Imawan, Ph.D. yang menyampaikan materi bertajuk “Dari Manuskrip, Oral History ke Narasi: Strategi Meneliti dan Menulis Sejarah Islam Lokal.” Ia mengajak mahasiswa memahami sejarah, sumber sejarah, sejarah Islam, dan secara khusus sejarah Islam lokal sebagai satu kesatuan proses penelitian. Menurut materi yang disampaikan, Nusantara memiliki kekayaan sumber sejarah berupa sumber lisan, tulisan, artefak, serta berbagai peninggalan karya ulama. Sejarah Islam lokal karena itu dapat ditelusuri dari berbagai jejak yang terdapat di lingkungan masyarakat, kemudian dikembangkan menjadi narasi sejarah melalui proses penelitian yang kritis.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa SPI UIN KHAS Jember mendapatkan perspektif bahwa sejarah lokal bukanlah “sejarah kecil”, melainkan ruang penting untuk melihat aktor, praktik, perubahan, dan dinamika masyarakat yang terkadang tidak terlihat dalam narasi sejarah berskala nasional. Bagi mahasiswa SPI, jejak sejarah Islam dapat ditemukan dalam masjid, pesantren, makam, manuskrip, ulama, tradisi keagamaan, pendidikan, jaringan intelektual, ritual, dan komunitas Muslim.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa tugas sejarawan bukan sekadar menyelamatkan masa lalu, melainkan membaca jejak masa lalu secara kritis serta memahami bagaimana masa lalu terus bekerja dan dinegosiasikan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Tag :