Mengembangkan Kampus Inklusif, FUAH UIN KHAS Jember Inisiasi Laboratorium Al-Qur’an Ramah Kaum Difabel.

Home >Berita >Mengembangkan Kampus Inklusif, FUAH UIN KHAS Jember Inisiasi Laboratorium Al-Qur’an Ramah Kaum Difabel.
Mengembangkan Kampus Inklusif, FUAH UIN KHAS Jember Inisiasi Laboratorium Al-Qur’an Ramah Kaum Difabel.
Preview

Jakarta – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember melakukan kunjungan ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) dalam rangka memperkuat sinergi pengembangan pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif dan ramah bagi kaum difabel.

Kunjungan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag tersebut menjadi bagian dari langkah strategis FUAH untuk mengembangkan ekosistem akademik yang memberikan ruang dan akses pembelajaran Al-Qur’an bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat, termasuk kaum difabel. Dalam kunjungan tersebut, FUAH membahas sejumlah agenda yang diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan LPMQ.

Salah satu agenda utama yang menjadi perhatian adalah pendirian Laboratorium Al-Qur’an Ramah kaum difabel di lingkungan FUAH UIN KHAS Jember. Laboratorium tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran, praktik, penelitian, dan pengembangan inovasi terkait pembelajaran Al-Qur’an yang dapat diakses oleh kaum difabel.

Keberadaan laboratorium ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pendukung pembelajaran, tetapi juga menjadi pusat pengembangan metode dan media pembelajaran Al-Qur’an yang adaptif. Mahasiswa nantinya dapat memperoleh pengalaman secara langsung dalam memahami kebutuhan kaum difabel sekaligus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Agenda kedua adalah pengembangan kurikulum berupa mata kuliah Al-Qur’an Ramah difabel. Mata kuliah tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa agar memiliki pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif.

Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami konsep pembelajaran Al-Qur’an bagi kaum difabel, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai pendekatan, metode, media, serta strategi komunikasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki sensitivitas sekaligus kompetensi dalam menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat.

Selain pengembangan laboratorium dan kurikulum, FUAH juga menjajaki peluang pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa di LPMQ. Program ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai lingkungan kerja dan aktivitas kelembagaan yang berkaitan dengan pengembangan, pelestarian, serta pelayanan Al-Qur’an kepada masyarakat.

PPL di LPMQ juga diharapkan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan pengalaman praktis. Melalui program tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan wawasan profesional sekaligus mengenal lebih dekat berbagai program dan aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an.

Agenda penting lainnya adalah rencana Training of Trainers (TOT) bagi dosen mengenai pembelajaran Al-Qur’an untuk kaum difabel. Kegiatan ini akan melibatkan Ida Zulfiya, pendiri Al-Qur’an Isyarat, sebagai trainer. Kehadiran Ida Zulfiya diharapkan dapat memberikan penguatan kompetensi kepada para dosen, khususnya dalam memahami pendekatan dan praktik pembelajaran Al-Qur’an yang dapat diakses oleh kaum difabel.

TOT tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan dosen agar memiliki kapasitas dalam mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih adaptif dan inklusif. Pengalaman serta praktik yang dikembangkan melalui Al-Qur’an Isyarat diharapkan dapat menjadi referensi bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan mahasiswa dan peserta didik kaum difabel.

Penguatan kapasitas dosen tersebut juga diharapkan memiliki dampak berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh melalui TOT dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, pengembangan kurikulum, penelitian, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, prinsip inklusivitas tidak hanya menjadi gagasan, tetapi dapat diimplementasikan dalam berbagai aktivitas akademik FUAH.

Kunjungan FUAH ke LPMQ tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi yang lebih konkret dalam pengembangan pembelajaran Al-Qur’an ramah kaum difabel. Sinergi antara perguruan tinggi, LPMQ, dan praktisi Al-Qur’an Isyarat diharapkan dapat melahirkan berbagai inovasi yang mendukung terwujudnya akses pembelajaran Al-Qur’an yang lebih luas dan setara.

Melalui empat agenda tersebut—pendirian Laboratorium Al-Qur’an Ramah kaum difabel, pengembangan mata kuliah Al-Qur’an Ramah kaum difabel, pelaksanaan PPL di LPMQ, serta TOT bagi dosen bersama Ida Zulfiya—FUAH UIN KHAS Jember menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk kaum difabel, sehingga nilai-nilai keislaman dapat dipelajari dan dikembangkan secara lebih inklusif.


Tag :

Diposting Pada : 7 Oktober 2026, 11:00 | Oleh : Muh. Ilham Shohib
Dilihat : 127

Berkas :