Bimtek Arkeologi Dorong Mahasiswa SPI UIN KHAS Jember Telusuri Potensi Arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean

Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean kembali menjadi perhatian dalam kajian arkeologi dan pelestarian budaya. Kawasan pegunungan yang masih asri tersebut dinilai memiliki potensi besar berupa tinggalan sejarah dan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang hingga kini belum sepenuhnya teridentifikasi. Potensi tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember untuk melakukan penelusuran dan kajian lapangan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Arkeologi.
Kegiatan bertajuk Bimtek Arkeologi: Pengelolaan dan Kajian ODCB ini direncanakan berlangsung pada tanggal 21–23 mendatang. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami pengelolaan situs budaya, metode identifikasi ODCB, hingga pentingnya pelestarian warisan sejarah secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk memahami langsung praktik penelitian arkeologi yang dilakukan di lapangan.
Lereng Selatan Gunung Hyang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki karakteristik geografis dan ekologis yang mendukung penelitian arkeologis. Struktur bentang alam kawasan pegunungan, keberadaan jalur-jalur lama, hingga sejumlah temuan yang diduga memiliki nilai historis menjadi indikasi penting bahwa wilayah tersebut menyimpan data sejarah yang layak untuk ditelusuri lebih mendalam. Selama ini, kawasan tersebut belum banyak mendapat perhatian dalam penelitian arkeologi secara intensif, sehingga masih terbuka peluang besar untuk mengungkap potensi sejarah yang tersembunyi di dalamnya.
Kegiatan Bimtek Arkeologi ini juga menjadi bagian dari upaya akademik untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. Tidak hanya sebagai objek kajian ilmiah, tinggalan budaya dan situs sejarah dipandang sebagai bagian dari identitas masyarakat yang harus dijaga keberlanjutannya. Oleh sebab itu, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya sebagai sumber pengetahuan dan memori kolektif masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Bimtek ini akan menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dalam bidang sejarah dan arkeologi. Narasumber pertama adalah Drs. Ismail Lutfi, M.A., dosen sejarah di Universitas Negeri Malang yang dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi di bidang arkeologi dan kajian budaya. Narasumber kedua adalah Hervina Nurullita, M.A., dosen sejarah di Universitas PGRI Banyuwangi yang juga aktif sebagai penggiat sejarah dan budaya. Kehadiran kedua narasumber tersebut diharapkan mampu memberikan wawasan yang komprehensif kepada peserta, baik dari sisi teoritis maupun pengalaman penelitian lapangan.
Selain penyampaian materi di dalam ruangan, peserta juga dijadwalkan mengikuti praktik ekskavasi secara langsung di kawasan perkebunan kopi di Desa Badean yang menjadi bagian dari wilayah Lereng Gunung Hyang. Kegiatan lapangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Bimtek karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami proses identifikasi, pencatatan, hingga teknik dasar ekskavasi arkeologi secara praktis. Dengan praktik lapangan tersebut, peserta diharapkan dapat memperoleh pengalaman yang lebih mendalam mengenai metode penelitian arkeologi dan pengelolaan data sejarah di lapangan.
Praktik ekskavasi yang dilakukan nantinya juga diharapkan menjadi pengalaman awal bagi mahasiswa SPI UIN KHAS Jember dalam mengenal proses penelitian arkeologi secara langsung. Selama ini, pembelajaran mengenai arkeologi lebih banyak diperoleh melalui kajian teoritis di dalam kelas. Melalui kegiatan lapangan seperti ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk melihat secara nyata bagaimana proses identifikasi tinggalan budaya dilakukan, mulai dari observasi lokasi, pendataan awal, hingga teknik penggalian sederhana yang sesuai dengan kaidah penelitian arkeologi.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat sekitar dalam upaya pelestarian budaya dan pengembangan penelitian sejarah lokal. Keterlibatan masyarakat dinilai penting karena keberadaan situs sejarah tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial yang mengitarinya. Dengan adanya keterlibatan masyarakat, diharapkan upaya pelestarian tinggalan budaya dapat berjalan secara berkelanjutan dan memperoleh dukungan bersama.
Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan ini, hasil kajian dan dokumentasi lapangan nantinya akan dihimpun dalam bentuk katalog. Katalog tersebut diharapkan dapat menjadi media dokumentasi ilmiah sekaligus sumber informasi mengenai potensi arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean. Selain menjadi output kegiatan, pencetakan katalog juga diharapkan mampu mendukung upaya pelestarian dan pengenalan warisan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi penelitian lanjutan terkait potensi sejarah dan arkeologi di kawasan Gunung Hyang.
Kegiatan Bimtek Arkeologi ini terbuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah dan budaya. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya warisan budaya serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan situs sejarah. Tidak hanya menjadi kegiatan akademik semata, Bimtek ini juga diharapkan dapat memperluas ruang diskusi dan kepedulian publik terhadap potensi sejarah lokal yang selama ini belum banyak dikenal.
Melalui kegiatan ini, Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu kawasan potensial dalam penelitian arkeologi di Indonesia. Lebih dari sekadar kegiatan akademik, Bimtek ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membuka kembali potensi sejarah yang selama ini tersembunyi, sekaligus menumbuhkan kepedulian bersama terhadap pelestarian budaya dan warisan peradaban masa lalu. Dengan adanya kegiatan ini, potensi sejarah yang dimiliki kawasan Lereng Selatan Gunung Hyang diharapkan dapat semakin dikenal, diteliti, dan dijaga keberlangsungannya untuk generasi mendatang.
Penulis : [Marsya Dwi Amailia/SPI]
Tag :