FUAH UIN KHAS Jember Gelar Studium General: Bahas Krisis Peradaban hingga Peluang AI dalam Studi Islam

Jember – Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) UIN KHAS Jember menyelenggarakan kegiatan Studium General di Gedung Aula BEC yang dihadiri oleh Dosen, Mahasiswa, dan Civitas akademika. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Rektor UIN KHAS Jember, Hepni, serta Dekan FUAH, Ahidul Asror.
Pada sesi pertama disampaikan oleh Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Hepni, S.Ag., M.M. menyampaikan materi bertajuk “Krisis Peradaban Kontemporer.” Dalam pembukaannya, beliau menekankan pentingnya memahami dinamika global melalui kerangka analisis PoDeSMic sebagai pendekatan untuk membaca berbagai persoalan multidimensional yang dihadapi dunia saat ini.
Menurutnya, krisis peradaban kontemporer ditandai oleh sejumlah indikator, seperti Polarization, Dehumanization, Spiritual Emptiness, Meaningless dan Crisis of Role. Beliau menegaskan bahwa krisis tersebut tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan kemanusiaan. Oleh karena itu, perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis dalam menghadirkan solusi berbasis nilai-nilai Islam yang moderat dan humanis.
Sementara itu, pada sesi kedua disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag. memaparkan materi berjudul “Tantangan dan Peluang AI dalam Studi Islam.” beliau menjelaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan signifikan dalam dunia akademik, termasuk dalam kajian keislaman.
Menurutnya, AI menghadirkan tantangan berupa persoalan validitas keilmuan, potensi bias algoritma, serta kemungkinan reduksi makna teks-teks keagamaan. Namun di sisi lain, AI juga membuka peluang besar, seperti digitalisasi manuskrip klasik, analisis data dalam studi tafsir dan hadis, hingga perluasan akses pembelajaran berbasis teknologi.
Beliau menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai instrumen pendukung, bukan pengganti otoritas ilmiah para ulama dan akademisi. Integrasi antara tradisi keilmuan Islam dan inovasi teknologi menjadi kunci agar studi Islam tetap relevan di era disrupsi.
Studium General ini menjadi momentum reflektif bagi FUAH UIN KHAS Jember dalam memperkuat peran akademiknya menjawab krisis peradaban sekaligus merespons perkembangan teknologi secara kritis dan konstruktif.
Tag :