Eksposur Internasional: 5 Mahasiswa FUAH UIN KHAS Jember Tembus Konferensi INSAN-9 di UTHM Malaysia

JEMBER – Lima mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember berhasil lolos *Call for Papers* dan terpilih menjadi presenter dalam *9th International Conference on Human Sustainability 2026 (INSAN-9)*. Konferensi internasional tersebut diselenggarakan pada 1–2 September 2026 di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Johor, Malaysia.
Kelima mahasiswa tersebut berasal dari sejumlah program studi di lingkungan FUAH, yakni Maharani Nur Fatihatus Sholihah dari Program Studi Ilmu Hadis (ILHA), Muhammad Fadlal Khairy Ibrahim dan Erro Witjaya Kusuma dari Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI), Siti Rohmatul Ummah dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), serta Nauval Fikri Zamani dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Keikutsertaan mereka menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi mahasiswa untuk membawa gagasan akademik dari Jember ke forum ilmiah internasional.
Maharani Nur Fatihatus Sholihah menjadi salah satu delegasi yang mengikuti konferensi secara *offline* di UTHM Malaysia. Ia mempresentasikan artikel berjudul *“Human Values and Moral Reasoning in the Age of Generative AI: Ethical Challenges of ChatGPT in Islamic Higher Education”*. Kajian tersebut mengangkat isu aktual mengenai nilai kemanusiaan, penalaran moral, serta tantangan etis penggunaan kecerdasan buatan generatif, khususnya ChatGPT, dalam lingkungan pendidikan tinggi Islam.
Delegasi offline lainnya, Muhammad Fadlal Khairy Ibrahim dari Prodi SPI, turut mempresentasikan karya ilmiahnya di hadapan peserta konferensi. Sementara itu, Erro Witjaya Kusuma, juga dari Prodi SPI, mengangkat kajian sejarah intelektual melalui artikel berjudul *“A Retrospection of Islamic Literature in Jember, Indonesia in 19th-20th Century through Ancient Manuscripts”*. Penelitian tersebut menghadirkan perspektif mengenai khazanah sastra Islam di Jember dengan memanfaatkan manuskrip kuno sebagai sumber penting dalam merekonstruksi jejak intelektual Islam lokal.
Tidak hanya melalui jalur sejarah dan hadis, mahasiswa FUAH juga membawa perspektif kebahasaan dan ekologi ke forum internasional tersebut. Siti Rohmatul Ummah dari Prodi BSA mengikuti konferensi secara *online* dengan paper berjudul *“Representing Nature Across Time: A Stylistic–Ecocritical Study of Arabic Poetry from the Jahiliyyah to the Modern Period.”* Kajian ini memadukan pendekatan stilistika dan ekokritik untuk membaca representasi alam dalam perkembangan puisi Arab dari periode Jahiliyah hingga era modern.
Sementara itu, Nauval Fikri Zamani dari Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir juga berpartisipasi secara *online* dengan artikel berjudul *“Reducing the Risk of Synthetic Pesticides: A Maqasid-Based Ethical Approach to the Qur'anic Verses on Ma'isyah and Fasad.”* Artikel tersebut menawarkan pendekatan etis berbasis *maqasid* dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan *ma'isyah* dan *fasad*, khususnya dalam upaya merumuskan perspektif keislaman terhadap risiko penggunaan pestisida sintetis.
Konferensi INSAN-9 diikuti tidak kurang dari 100 peserta dari berbagai negara, antara lain Malaysia sebagai tuan rumah, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Nigeria. Selain peserta yang hadir secara langsung, konferensi juga melibatkan sekitar 10 presenter secara daring yang berasal dari Indonesia, Pakistan, dan Malaysia. Komposisi peserta tersebut menjadikan INSAN-9 sebagai ruang akademik yang mempertemukan beragam perspektif lintas negara dan disiplin ilmu mengenai isu keberlanjutan dan kemanusiaan.
Keikutsertaan lima mahasiswa FUAH UIN KHAS Jember dalam INSAN-9 menjadi momentum penting untuk memperluas pengalaman akademik sekaligus meningkatkan eksposur internasional mahasiswa. Dua delegasi, Maharani Nur Fatihatus Sholihah dan Muhammad Fadlal Khairy Ibrahim, hadir secara langsung di UTHM Johor Malaysia, sedangkan tiga mahasiswa lainnya mengikuti presentasi secara daring. Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa FUAH tidak hanya aktif dalam kegiatan akademik di tingkat lokal dan nasional, tetapi mulai mampu menempatkan riset-riset berbasis keislaman, sejarah, bahasa, manuskrip, dan lingkungan dalam percakapan akademik internasional.
Tag :